Entri Populer

Sabtu, 11 Februari 2012

remaja ababil mudah galau

Memiliki adik yang masih tergolong remaja terpaut usia 5 tahun dengan saya dan keadaan kami yang tinggal jauh dari orang tua memang membuat saya merasa sok ‘tua’. Dalam artian selalu mengkhawatirkan tindakan dia dan selalu ingin mengarahkan mulai dari jurus komunikasi efektif sampai jurus super bawel bahkan jutek meski saya sadari belum tentu juga arahan saya tepat untuk dia, nah lho? Hal seperti ini mungkin kadang terlalu berlebihan dan bikin dia jengah.
Adik perempuan pasti beda perlakuannya dengan memiliki adik laki-laki. Saya tidak segan memarahi adek saat jam pulang - nya di luar jam yang telah saya tentukan tanpa alasan yang jelas dan tidak segan-segan menyarankan adek saya putus dari pacarnya jika prestasinya merosot tajam akibat pacaran. Galak ya saya! Biarin. Saya juga selalu mengecek paling tidak sebagai bentuk perhatian dan sekaligus kontrol, lagi apa, di mana, sama siapa bisa 3 sampai 4 kali sehari jika berada di luar rumah.
Ini membuat adek saya bosan? Pasti, bahkan dia selalu mengatai saya dengan bawel, berisik, jutek, ribut. Tetapi bukan berarti saya membatasi ini itu, mengatur, mendikte atau otoriter, saya rasa apa yang saya lakukan masih dalam konteks yang wajar. Mendidik seorang remaja memang tidak bisa keras terus dan lemah terus. Perlu fleksibilitas, adakalanya kita ‘galak’ dan adakalanya kita ’slow’. Rata-rata remaja memang masih labil meskipun saya juga tidak memungkiri banyak juga remaja yang pikirannya sangat dewasa dan bijak melebihi orang dewasa sesungguhnya. Itu kenapa sampai ada julukan Ababil alias abege labil. Hal ini karena remaja berada di dalam masa transisi secara psikis - emosional - sosial, fisik – hormonal alias biologisnya, dan kognitif. Dia belum jadi dewasa sepenuhnya tetapi juga sudah tidak memiliki lagi status “ anak-anak”.
Banyak indikasi labil yang saya tangkap dari diri saya sendiri saat masih remaja dulu, adek saya dan sepupu-sepupu saya yang masih remaja. Misalnya sikap mereka yang istilah orang sekarang mudah ‘galau’. Hal-hal kecil gampang sekali menggalaukan pikiran atau mengganggu psikisnya dan merusak konsentrasi belajarnya. Misalnya ada masalah dengan temannya atau terbayang-bayang gadget yang tak atau belum terbeli karena ga didukung orang tua. Aneh kan? Tapi nyata, misalnya seperti yang saya ceritakan sebelumnya, sepupu saya si Nadia yang gadget freak dan semuanya mesti serba up date. Jika keinginannya misalkan saat ini mumpung yang lagi booming iphone 4 S ga di Acc sama ayahnya, maka bisa saya pastikan beberapa hari ke depan dia akan bermuram durja, galau, males ini itu, seperti kejadian sebelum-sebelumnya.
Karakter yang lain adalah selalu ingin mendapat pembelaan. Saat dimarahi ayah lari minta pembelaan ibu, saat dimarahi ibu lari minta pembelaan ayah, saat dimarahi keduanya lari minta pembelaan saudara dan saat dimarahi oleh orang serumah mereka minta pembelaan tetangga. Hehe, bisa jadi. Pada intinya mereka selalu membutuhkan sosok pelindung dan pembela karena merasa apa yang mereka lakukan sudah benar.
Remaja masih dalam proses pencarian jati diri sehingga mereka masih meraba-raba diri mereka sendiri. Itu sebabnya mereka sering terombang ambing mudah terpengaruh sana sini. Kalau pengaruh yang masuk pengaruh positif sih oke saja, hanya jika yang terjadi sebaliknya, pengaruh negatif, maka kita perlu mewaspadainya.
Tidak ada salahnya mengenal juga orang-orang yang dekat dengan mereka, terutama teman-temannya di sekolah atau di kampus karena intensitas kebersamaan si remaja dengan teman-temannya cukup tinggi, bahkan bisa jadi lebih banyak intensitas remaja bersama teman daripada bersama keluarga. Anggap saja jam 7 sampe jam 4 sore mereka bertemu teman, sampai rumah sore bahkan malam, ketemu keluarga sebentar terus tidur, jadi aktivitasnya lebih banyak bersama teman. Biasanya sikap atau gaya hidup si teman sedikit atau banyak mempengaruhi kelakuan remaja bahkan termasuk pola pikirnya. Jika memiliki teman yang rajin belajar dan pekerja keras itu impact positif, tapi jika memiliki teman yang kerjaannya hanya hang out, menomersekiankan pendidikan dan apatis, wah kita wajib protect.
Remaja juga identik dengan mengambil keputusan terlalu cepat. Usia mereka ini memang usia pembelajaran pengambilan keputusan. Hanya saja jika grusa - grusu maka orang tua atau keluarga wajib mengawal. Mengarahkan dia untuk belajar menganalisa segala sesuatunya dari semua sisi saat pengambilan keputusan dan menekankan pada mereka bahwa setiap keputusan itu ada resiko dan pertanggung jawabannya.
Seorang remaja hendaknya tidak dibiarkan sendirian dalam melalu masa-masa remaja menuju masa dewasanya, orang tua atau keluarga yang lebih dewasa intinya wajib mengontrol, karena disitu proses pembentukan karakter dan pola pikir dimulai. Pendidikan, masukan dan teladan yang positif akan membuat mereka menjadi orang dewasa yang berkualitas suatu saat nanti dan sebaliknya jika apa yang kita tanamkan dimasa remajanya negatif maka akan membuat mereka menjadi orang dewasa yang hanya dewasa secara umur tetapi tak pernah dewasa secara pola pikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar