Memiliki adik yang masih tergolong remaja terpaut usia 5 tahun dengan saya dan keadaan kami yang tinggal jauh dari orang tua memang
membuat saya merasa sok ‘tua’. Dalam artian selalu mengkhawatirkan
tindakan dia dan selalu ingin mengarahkan mulai dari jurus komunikasi
efektif sampai jurus super bawel bahkan jutek meski saya sadari belum
tentu juga arahan saya tepat untuk dia, nah lho? Hal seperti ini mungkin
kadang terlalu berlebihan dan bikin dia jengah.
Adik perempuan pasti beda perlakuannya dengan memiliki adik laki-laki. Saya tidak segan memarahi adek saat jam pulang - nya di luar jam yang telah saya tentukan tanpa alasan yang jelas dan tidak segan-segan menyarankan adek saya putus dari pacarnya
jika prestasinya merosot tajam akibat pacaran. Galak ya saya! Biarin.
Saya juga selalu mengecek paling tidak sebagai bentuk perhatian dan
sekaligus kontrol, lagi apa, di mana, sama siapa bisa 3 sampai 4 kali
sehari jika berada di luar rumah.
Ini membuat adek saya bosan? Pasti, bahkan dia selalu mengatai saya dengan bawel, berisik, jutek, ribut. Tetapi
bukan berarti saya membatasi ini itu, mengatur, mendikte atau otoriter,
saya rasa apa yang saya lakukan masih dalam konteks yang wajar.
Mendidik seorang remaja memang tidak bisa keras terus dan lemah terus.
Perlu fleksibilitas, adakalanya kita ‘galak’ dan adakalanya kita ’slow’.
Rata-rata remaja memang masih labil meskipun saya juga tidak
memungkiri banyak juga remaja yang pikirannya sangat dewasa dan bijak
melebihi orang dewasa sesungguhnya. Itu kenapa sampai ada julukan Ababil alias abege labil. Hal
ini karena remaja berada di dalam masa transisi secara psikis -
emosional - sosial, fisik – hormonal alias biologisnya, dan kognitif.
Dia belum jadi dewasa sepenuhnya tetapi juga sudah tidak memiliki lagi
status “ anak-anak”.
Banyak indikasi labil yang saya tangkap dari diri
saya sendiri saat masih remaja dulu, adek saya dan sepupu-sepupu saya
yang masih remaja. Misalnya sikap mereka yang istilah orang sekarang
mudah ‘galau’. Hal-hal kecil gampang sekali menggalaukan pikiran atau mengganggu psikisnya dan
merusak konsentrasi belajarnya. Misalnya ada masalah dengan temannya
atau terbayang-bayang gadget yang tak atau belum terbeli karena ga
didukung orang tua. Aneh kan? Tapi nyata, misalnya seperti yang saya
ceritakan sebelumnya, sepupu saya si Nadia yang gadget freak dan semuanya mesti serba up date. Jika keinginannya misalkan saat ini mumpung yang lagi booming
iphone 4 S ga di Acc sama ayahnya, maka bisa saya pastikan beberapa
hari ke depan dia akan bermuram durja, galau, males ini itu, seperti
kejadian sebelum-sebelumnya.
Karakter yang lain adalah selalu ingin mendapat
pembelaan. Saat dimarahi ayah lari minta pembelaan ibu, saat dimarahi
ibu lari minta pembelaan ayah, saat dimarahi keduanya lari minta
pembelaan saudara dan saat dimarahi oleh orang serumah mereka minta
pembelaan tetangga. Hehe, bisa jadi. Pada intinya mereka selalu
membutuhkan sosok pelindung dan pembela karena merasa apa yang mereka
lakukan sudah benar.
Remaja masih dalam proses pencarian jati diri
sehingga mereka masih meraba-raba diri mereka sendiri. Itu sebabnya
mereka sering terombang ambing mudah terpengaruh sana sini. Kalau
pengaruh yang masuk pengaruh positif sih oke saja, hanya jika yang
terjadi sebaliknya, pengaruh negatif, maka kita perlu mewaspadainya.
Tidak ada salahnya mengenal juga orang-orang yang
dekat dengan mereka, terutama teman-temannya di sekolah atau di kampus
karena intensitas kebersamaan si remaja dengan teman-temannya cukup
tinggi, bahkan bisa jadi lebih banyak intensitas remaja bersama teman
daripada bersama keluarga. Anggap saja jam 7 sampe jam 4 sore mereka
bertemu teman, sampai rumah sore bahkan malam, ketemu keluarga sebentar
terus tidur, jadi aktivitasnya lebih banyak bersama teman. Biasanya
sikap atau gaya hidup si teman sedikit atau banyak mempengaruhi kelakuan
remaja bahkan termasuk pola pikirnya. Jika memiliki teman yang rajin
belajar dan pekerja keras itu impact positif, tapi jika
memiliki teman yang kerjaannya hanya hang out, menomersekiankan
pendidikan dan apatis, wah kita wajib protect.
Remaja juga identik dengan mengambil keputusan
terlalu cepat. Usia mereka ini memang usia pembelajaran pengambilan
keputusan. Hanya saja jika grusa - grusu maka orang tua atau
keluarga wajib mengawal. Mengarahkan dia untuk belajar menganalisa
segala sesuatunya dari semua sisi saat pengambilan keputusan dan
menekankan pada mereka bahwa setiap keputusan itu ada resiko dan
pertanggung jawabannya.
Seorang remaja hendaknya tidak dibiarkan sendirian
dalam melalu masa-masa remaja menuju masa dewasanya, orang tua atau
keluarga yang lebih dewasa intinya wajib mengontrol, karena disitu
proses pembentukan karakter dan pola pikir dimulai. Pendidikan, masukan
dan teladan yang positif akan membuat mereka menjadi orang dewasa yang berkualitas suatu saat nanti dan sebaliknya jika apa yang kita tanamkan dimasa remajanya negatif maka akan membuat mereka menjadi orang dewasa yang hanya dewasa secara umur tetapi tak pernah dewasa secara pola pikir.
Entri Populer
-
Saat ini saya akan tuliskan beberapa langkah untuk mengatasi sakit hati , setelah kemarin saya sempat memposting artikel tentang manfaat p...
-
Engkau yang sedang galau karena cinta ... Perbaikilah ketegasanmu dalam memilih orang yang kau cintai. Sumber kegalauan terbesar dalam cin...
-
Memiliki adik yang masih tergolong remaja terpaut usia 5 tahun dengan saya dan keadaan kami yang tinggal jauh dari orang tua memang membuat...
-
tingkat yang paling sering terjadi di kalangan manusia-manusia khususnya Remaja: 1. GALAU Saya ulangi g.a.l.a.u ya mungkin kata...
-
Tips Anti Galau | Cara Mengobati Galau | Cara Menghindari Galau - Masih pada bahasan seputar Galau , dalam bahasan kali ini akan diberika...
-
'galau' kata yang lagi ngetrend di kalangan remaja. ga heran akibat banyak aktfitas remaja dan remaja iu sendiri belum mmiliki kontr...
-
انيسآء ..teruslah bergerak, berhentilah mengeluh.. Home Posts RSS Comments RSS Edit ..dal...
-
Yap sekarang aku sedang galau bukan galau cinta nih!! Tapi galau NILAI hiks... berapa ya nasib ulangan ekonomi & fisika ku? Semogaaa gak...
-
Akhir-akhir ini marak sekali kita jumpai suatu sistem standar pendidikan dengan sebutan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Se...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar